Kunci Doa meminta Rizki



1. ISTIGHFAR DAN TAUBAT
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً. يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً.

Maka aku katakan kepada mereka, ”Mohonlah ampun kepada Robb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan yang lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”(QS. Nuh71: 10-12).

Ibnu Katsir berkata, “Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Alloh, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa menta’ati-Nya, niscaya Dia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan untuk kalian, membanyakkan anak dan melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu.”Tafsir Ibnu Katsir, 4449).


 Kunci Doa meminta Rizki


Sebagian umat Islam menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata, dengan hanya memperbanyak kalimat, “Astaghfirullohal ‘adzim”. Tetapi kalimat itu tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat ini adalah taubatnya orang yang dusta. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Para ulama berkata, “Bertaubat dari segala dosa adalah wajib. Jika dosa itu antara hamba dengan Alloh, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga: pertama, hendaknya ia menjauhi dosa (maksiat) itu, kedua, ia harus menyesali perbuatan dosa itu, ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang maka taubatnya tidak sah.


Jika taubat itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat.
Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut.
Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya.
Jika berupa (had) hukuman tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalasnya atau meminta maaf padanya.
Jika berupa ghibah (menggunjing) maka ia harus meminta maaf.” (Riyadush Sholihin).


2. TAQWA
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَـخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Tholaq65: 2-3 ).
Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maknanya, barangsiapa bertaqwa kepada Alloh dengan melakukan apa yang diperinyahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Alloh akan memberi-nya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.” (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Ath Tholaq : 2-3).


Para ulama telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar Roghib Al Ashfahani rahimahullah berkata, “Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan.” (Al Mufrodat fi Ghoribil Qur’an).
Orang yang melihat dengan kedua bola matanya apa yang diharam-kan Alloh, atau mendengarnya dengan kedua telinganya apa yang di-murkai Alloh Subhanahu wa Ta’ala, atau mengambilnya dengan kedua tangannya apa yang tidak diridloi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, atau berjalan ke tempat yang di kutuk Alloh Subhanahu wa Ta’ala, berarti ia tidak menjaga dirinya dari dosa.

Jadi, orang yang membangkang perintah Alloh Subhanahu wa Ta’ala serta melakukan apa yang dilarang-Nya, dia bukanlah termasuk orang-orang yang bertaqwa. Orang yang menceburkan diri ke dalam maksiat, sehingga ia pantas mendapat murka Alloh Subhanahu wa Ta’ala, maka ia telah mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa.



3. TAWAKKAL KEPADA ALLOH
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً

Dan barangsiapa bertawakkal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Alloh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath Tholaq65: 3).

Menafsirkan ayat tersebut, Ar Robi’ bin Khutsaim rahimahullah berkata, “(mencukupkan) dari setiap yang membuat sempit manusia.” (Syarhus Sunnah, 14298)
Menjelaskan makna tawakkal para ulama berkata, diantaranya Imam Ghozali rahimahullah, Beliau berkata, “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada “WAKIIL” (yang ditawakkali) semata.” (Ihya’ Ulumuddin, 4259).
Al Allamah Al Manawi rahimahullah berkata, “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali.” (Faidhul Qodir, 5311).
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكَّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Alloh sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”  Sebagian manusia ada yang berkata, “Jika orang yang bertawakkal kepada Alloh itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan, bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari langit.


Perkataan ini sungguh menunjukkan kebodohan orang yang mengucapkannya tentang hakekat tawakkal. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan untuk meninggalkan usaha. Sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal pada Alloh dalam bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan (rizki) itu di tangan-Nya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut.” (Tuhfatul Ahwadzi, 78).
Imam Ahmad rahimahullah menambahkan, “Para shahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya.
Dan merekalah teladan kita.”
(Fathul Bari, 11305-306).

4. BERIDAH KEPADA ALLOH
SUBHANAHU WA TA’ALA SEPENUHNYA
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: يَا ابْنَ آدَمَ! تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ، أَمْلأْ صَدْ رَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَكَ شُغْلاً، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكْ

“Sesungguhnya Alloh Ta’laa berfirman, “Wahai anak Adam. Beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku! Niscaya Aku penuhi di dalam dada dengan kekayaan dan aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak aku penuhi kebutuhanmu.”  Al Mulla Ali Al Qori rahimahullah menjelaskan makna hadits -

تَفَرَّغْ لِعِبَدَتِى

– beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, Beliau berkata, “Makna-nya, jadikanlah hatimu benar-benar sepenuhnya (konsentrasi) untuk beribadah kepada Robb-mu.” (Murqotul Mafatih, 926). Hendaknya seseorang tidak mengira bahwa yang dimaksud beribadah sepenuhnya adalah dengan meninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupan dan duduk di masjid sepanjang siang dan malam. Hendaknya seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri dihadapan Alloh Maha Esa. Menghadirkan hati, betapa besar keagungan Alloh Subhanahu wa Ta’ala.


5. MELAJUTKAN HAJI DENGAN UMROH ATAU SEBALIKNYA
Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وِالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيْرُ خَبَثَ الْـحَدِيدِ

“Lanjutkanlah haji dengan umroh atau sebaliknya. Karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana api dapat mengilangkan kotoran besi.”  Syaikh Abul Hasan As Sindi rahimahullah menjelaskan haji dengan umroh atau sebaliknya, berkata, “Jadikanlah salah satunya mengikuti yang lain, dimana ia dilakukan sesudahnya.


Artinya, jika kalian menunaikan haji maka tunaikanlah umroh. Dan jika kalian menunaikan umroh maka tunaikanlah haji, sebab keduanya saling mengikuti.” (Hasyiyatul Imam As Sindi ‘ala Sunan An Nasa’i, 5115). Sedangkan Imam Ath Thoyyibi rahimahullah dalam menjelaskan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ

Sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa…,Kemampuan keduanya untuk menghilangkan kemiskinan seperti kemampuan amalan bersedekah dalam menambah harta.” (Faidhul Qodir, 3225).

6. SILATURRAHIM
Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُسْطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (diperpanjang usianya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahmi.” (HR. Bukhori). Makna “ar rahim” adalah para kerabat dekat. Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Ar rahim secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antar mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahrom atau tidak. Menurut pendapat lain, mereka adalah “maharim” (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja. 


Baca Juga : Menghilangkan nafsu selingkuh

Baca juga : Ajian papat kalima pancer

Baca juga : Falsafah hidup kejawen


Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian.” (Fathul Bari, 1014).
Silaturrahim, sebagaimana dikatakan oleh Al Mulla Ali Al Qori rahimahullah adalah kinayah (ungkapansindiran) tentang berbuat baik kepada para kerabat dekat -baik menurut garis keturunan maupun perkawinan- berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka. (Murqotul Mafatih, 8645).

7. BERINFAQ DI JALAN ALLOH
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Alloh akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’34: 39). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat di atas, “Betapapun sedikit apa yang kamu infaqkan dari apa yang diperintahkan Alloh kepadamu dan apa yang diperbolehkan-Nya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia, dan di akhirat engkau akan diberi pahala dan ganjaran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3595).
Syaikh Ibnu Asyur berkata, “Yang dimaksud dengan infaq di sini adalah infaq yang dianjurkan dalam agama. Seperti berinfaq kepada orang-orang fakir dan berinfaq di jalan Alloh untuk menolong agama.” (Tafsirut Tahrir wa Tanwir, 22221).

8. MEMBERI NAFKAH KEPADA ORANG YANG
SEPENUHNYA MENUNTUT ILMU SYARI’AT (AGAMA)


كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِى النَّبِي صلى الله عليه وسلم وَاْلآخِرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِى، فَقَالَ صلى الله عليه وسلم لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ


“Dahulu ada dua orang bersaudara pada masa Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam.
Salah seorang dari mereka mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (untuk menuntut ilmu) dan (saudaranya) yang lain pergi bekerja.
Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mudah-mudahan engkau diberi rizki karena sebab dia”  Al Mulla Ali Al Qori menjelaskan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

 لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ 

mudah-mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia “Yang menggunakan shighot majhul (ungkapan kata kerja pasif), yakni, aku berharap atau aku takutkan bahwa engkau sebenarnya diberi rizki karena berkahnya. Dan bukan berarti dia (si penuntut ilmu) diberi rizki karena pekerjaanmu. Oleh sebab itu jangan engkau mengungkit-ungkit pekerjaanmu kepadanya.” (Murqotul Mafatih, 9171).

9. BERBUAT BAIK PADA ORANG YANG LEMAH
Mush’ab bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwasanya Sa’d radhiyallahu ‘anhu merasa dirinya memiliki kelebihan daripada orang lain, maka Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلاَّ بِضُعَفَا ئِكُمْ

“Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki lantaran orang-orang yang lemah diantara kalian ” (HR. Bukhori). Karena itu, siapa yang ingin ditolong Alloh dan diberi rizki oleh-Nya maka hendaklah ia memuliakan orang-orang yang lemah dan berbuat baik kepada mereka.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

اِبْغُوْنِيْ فِي ضُعَفَائِكُمْ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَ تُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carilah (keridhaan)ku melalui orang-orang lemah di antara kalian. Karena sesungguhnya kalian diberi rizki dan ditolong dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian”.

10. HIJRAH DI JALAN ALLOH
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللّهِ يَـجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَماً كَثِيراً وَسَعَةً

“Barangsiapa berhijrah di jalan Alloh, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.”
(QS. An Nisa: 100). Qotadah rahimahullah berkata, “Maknanya, keluasan dari kesesatan kepada petunjuk, dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan.” (Tafsir Al Qurthubi, 5348). Imam Al Qurthubi rahimahullah  berkata, “Sebab, keluasan negeri dan banyaknya bangunan menunjukkan keluasan rizki. Juga menunjukkan kelapangan dada yang siap menanggung kesedihan dan pikiran serta hal-hal lain yang menunjukkan kemudahan.”
(Tafsir Al Qurthubi, 5348). Imam Ar Roghib Al Ashfahani rahimahullah berkata bahwa hijrah adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri yang iman, sebagaimana para shahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Sayid Muhammad Rosyid Ridlo rahimahullah mengatakan bahwa hijrah di jalan Alloh Subhanahu wa Ta’ala harus dengan sebenar-benarnya.

Artinya, maksud orang yang berhijrah dari negerinya itu adalah untuk mendapatkan ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan menegakkan agama-Nya yang ia merupakan kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai Alloh Subhanahu wa Ta’ala, juga untuk menolong saudara-saudaranya yang beriman dari permusuhan orang-orang kafir.

Semoga shalawat, salam dan keberkahan dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, sahabat, dan segenap pengikutnya.

Demikian Kunci – Kunci Rizki, walau masih banyak kekurangan dan mungkin ada kesalahan mohon maaf yang sebesar besarnya, terimakasih semoga bermanfaat Amin. Kumpulan Ilmu
Loading...

0 Response to "Kunci Doa meminta Rizki"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel